BERITA BPIP :: Rabu, 14-04-2021

Tradisi Bermanfaat yang Bergeser

BPIP RI

Jakarta:- Hari pertama Ramadhan 1422 H baru saja lewat, namun beberapa pesan permohonan maaf memasuki Ramadhan masih saja mengalir ke WAG saya. Kalimat atau kata-kata yang tertulis dalam pesan yang masuk tersebut umumnya identik dengan pesan-pesan yang sudah masuk terlebih dahulu. Tidak ada kesan personal dari pesan yang dikirimkan secara daring.

Tidak ada lagi silaturahmi antar saudara, kerabat ataupun teman. Di era disrupsi dengan kemudahan teknologi informasi, ditambah pandemi covid, tidak ada lagi silaturahmi secara tatap muka seperti dulu. Tradisi bermaafan yang dilakukan di masa lalu di berbagai daerah dan sarat dengan kearifan lokal, kini tidak terasa keberadaannya.

Dari sejarahnya, tradisi bermaafan sudah ada sejak zaman Yunani Kuno dan di era para nabi yang dilakukan melalui tradisi berjabat tangan. Pada zaman Rasulullah Muhammad SAW, para sahabat nabi ketika bertemu sering berjabat tangan, dalam konteks mempererat persaudaraan atau memberikan penghormatan.

Di Indonesia sendiri, pada masa lalu, di hampir setiap daerah di Indonesia terdapat tradisi dan kearifan lokal bermaafan menjelang Ramadhan. Di Aceh kita mengenal tradisi Meugang yaitu tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama orang terdekat dan juga yatim piatu. Masyarakat Aceh percaya bahwa kebaikan dan keberkahan yang didapatkan selama 11 bulan lalu patut disyukuri dengan cara menggelar tradisi Meugang.

Di Jawa Barat, masyarakat Sunda memiliki tradisi munggahan menyambut bulan Ramadhan ini memanfaatkan. Kegiatan yang dilakukan seminggu atau dua minggu sebelum bulan puasa bertujuan untuk berkumpul bersama orang-orang terdekat seperti keluarga dan juga teman sebagai momen saling meminta maaf untuk mempersiapkan diri menuju bulan Ramadhan.

Di Jakarta ada tradisi masyarakat yang disebut Nyorog. Tradisi unik ini dilakukan setiap memasuki bulan Ramadhan dengan membagikan bingkisan ke anggota keluarga atau tetangga dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Tradisi unik ini biasanya dilakukan orang yang lebih muda ke orang yang usianya lebih tua, tujuannya adalah untuk meminta restu kelancaran ibadah puasa selama di bulan Ramadhan.

Kini tradisi-tradisi unik yang sarat dengan kearifan lokal tersebut dapat dikatakan sudah jarang dilakukan, apalagi di era covid. Kebiasaan bermaafan dengan berkumpul dan berjabat tangan sudah tergantikan oleh silaturahmi daring. Apabila menjelang tahun 2000-an silaturahmi daring diawali dengan pengiriman pesan SMS berbayar per pesan yang terkirim, maka kini lewat internet pengiriman pesan bisa dilakukan relatif tanpa batas dan bisa tatap muka lewat video call, baik berdua maupun bersama-sama (video conference), tanpa biaya berlangganan untuk penggunaan aplikasi.

Dari sisi kepraktisan, silaturahmi daring memang benar-benar praktis. Kita tidak perlu berdesakan dan bermacet ria saat mudik serta menempuh jarak yang jauh untuk berjumpa dengan saudara dan sahabat.

Karena itu tidak ada yang keliru dengan adanya pergeseran tradisi bermaafan secara daring, terlebih di era covid kita dituntut untuk jaga jarak. Secara prinsip tidak menjadi masalah karena intinya saling memaafkan adalah niat meminta maaf dan memberi maaf. Jika setiap saat orang berkenan menaklukkan gengsi kediriannya untuk meminta maaf saat berbuat salah, dan sebaliknya dengan legawa memberikan maaf, maka tujuan bermaafan dapat tercapai. Dengan bermaafan maka tak akan ada konflik yang bertahan lama, apalagi berujung pada kekerasan.

Namun secara pribadi, saya merasa ada sesuatu yang hilang. Secara umum tidak ada aura personal dari setiap pesan yang diterima. Kalimat atau kata-kata yang dikirim pun tidak terasa kekhususannya karena sekedar menyalin (copy paste) dari pesan yang sudah ada. Jabatan tangan atau pelukan tidak bisa tergantikan oleh pesan-pesan yang dikirim secara instan karena berpandangan teknologi mempermudah semua urusan.

Saya pun merasa bahwa bertemu secara langsung lebih baik daripada melalui SMS, Whatsapp, dan lainnya,  karena media sosial tak bisa membawa mimik wajah, dan emosi tidak ikut. Saat ketemu langsung kita berjabat tangan, berpelukan, ada mimik wajah dan kata-katanya yang bisa didengar dengan penghayatan.

Iya tetapi sekarang kan masih covid dan kita mesti menjaga jarak untuk mencegah penularan virus covid?

Iya sekarang tahan saja dulu, jangan buru-buru ingin bersilahturahmi secara luring. Nanti kalau virus covid sudah tertangani sepenuhnya dan kita sudah benar-benar bisa mendapatkan obat pencegah virus covid dan berada di kenormalan baru, maka pada saat itulah silahturahmi luring bisa dilakukan dengan sepenuh hati.

Sekarang marilah kita isi kegiatan bulan Ramadan dengan hukumnya wajib bagi setiap muslim yang sudah baligh. Sebagaimana tertulis dalam surat Al-Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (AHU/ER)

Penulis: Aris Heru Utomo (Direktur Standarisasi Materi dan Metode Aparatur Negara BPIP)

...
Nama :
Email :
Komentar :
 
Kirim
Arsip Berita BPIP
Rubrik lainnya
Berita BPIP
Kunjungan kerja